PALANGKA RAYA-Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah masih menghadapi kendala. Salah satunya kondisi kabut asap yang menyebabkan jarak pandang belum memenuhi standar keselamatan penerbangan untuk operasi water bombing.
Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) Provinsi Kalimantan Tengah Agustan Saining mengatakan, kondisi tersebut membuat pesawat water bombing yang telah disiagakan di wilayah Kalteng belum dapat beroperasi secara maksimal.
“Untuk berangkat atau naik pesawat itu harus memenuhi kelayakan, salah satunya jarak pandang sekitar lima kilometer. Sementara kita rata-rata masih tiga sampai empat kilometer,”ucapnya Kamis (24/9/2026).
Padahal, pada awal penanganan karhutla, operasi water bombing dapat dilakukan secara intensif. Bahkan, satu pesawat bisa melakukan puluhan kali penyiraman dalam sehari di lokasi kebakaran.
“Awalnya setiap hari bisa dilakukan water bombing. Satu pesawat bisa sekitar 60 kali melakukan water bombing di wilayah yang terbakar. Sekarang terkendala jarak pandang,”tambahnya.
Meski demikian, operasi pemadaman tetap dilakukan dari wilayah yang memiliki kondisi cuaca lebih memungkinkan. Salah satunya melalui penerbangan dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
“Di Banjarmasin jarak pandangnya masih sekitar delapan sampai sembilan kilometer sehingga memungkinkan untuk terbang. Kemudian operasinya dilakukan di wilayah Kapuas dan Pulang Pisau yang kondisinya cukup parah,”lanjutnya.
Kondisi asap yang masih menyelimuti sejumlah wilayah Kalteng tidak selalu menunjukkan bahwa kebakaran sedang terjadi dalam jumlah besar. Berdasarkan informasi dari BMKG, arah angin dari selatan turut membawa asap dari sejumlah wilayah menuju Palangka Raya dan daerah lainnya.
“Dari data BMKG, angin dari selatan. Kemungkinan dari wilayah Pulang Pisau dan Kapuas. Asapnya banyak berhenti di sekitar Palangka Raya dan Gunung Mas. Bahkan Murung Raya yang jarang terjadi kebakaran juga terdampak asap,” tuturnya.
Titik api dan kejadian kebakaran saat ini sudah tidak sebanyak sebelumnya. Namun, asap masih dapat bertahan karena karakteristik lahan gambut.“Di atas sudah habis terbakar, tetapi di bawah masih ada bara. Bara inilah yang kemudian mengeluarkan asap,”ungkapnya.








