Tak Ingin Jadi Penonton, BEMKA Dorong Pemuda Kalteng Ikut Cari Solusi

Palangka Raya-Satu tahun bukan waktu yang panjang bagi sebuah organisasi. Namun bagi Bangkit Pemuda Kalimantan Tengah (BEMKA), usia pertama menjadi momentum untuk melihat kembali alasan organisasi ini lahir sekaligus menentukan langkah ke depan.

Ketua BEMKA Ahmad Prianto Rifansyah didampingi Bendahara Anton, menegaskan bahwa BEMKA dibangun dengan semangat menghadirkan ruang bagi pemuda Kalimantan Tengah untuk tidak hanya menjadi penonton terhadap berbagai persoalan di sekitarnya.Menurutnya, persoalan pemuda tidak berhenti pada aktivitas organisasi atau kegiatan seremonial.

Pemuda juga memiliki ruang untuk terlibat dalam persoalan yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat, mulai dari pendidikan, kesehatan, lingkungan hingga keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas).Bagi BEMKA, keterlibatan tersebut tidak harus selalu dimulai dari langkah besar. Kepedulian bisa hadir melalui aksi sederhana yang manfaatnya langsung dirasakan masyarakat.

Salah satunya melalui pembagian masker kepada masyarakat di tengah kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah Kalimantan Tengah.

Bacaan Lainnya
“Kirim

Aksi tersebut menjadi gambaran bagaimana BEMKA mencoba merespons persoalan yang terjadi di tengah masyarakat. Masker memang tidak menyelesaikan persoalan karhutla, tetapi menjadi bentuk kepedulian sekaligus pengingat bahwa dampak kebakaran tidak hanya berbicara tentang lahan yang terbakar, tetapi juga menyangkut kesehatan dan aktivitas masyarakat.

Ahmad Prianto Rifansyah mengatakan, pemuda perlu mengambil posisi sebagai bagian dari solusi. Dalam persoalan Kamtibmas misalnya, menjaga lingkungan agar tetap aman dan kondusif bukan semata-mata tugas aparat.

Pemuda dapat berperan dari lingkungan paling dekat, seperti membangun komunikasi antarwarga, menghindari tindakan yang berpotensi memicu konflik, serta ikut menciptakan ruang sosial yang sehat.

Peran tersebut semakin penting di tengah derasnya arus informasi melalui media sosial. Hoaks, provokasi, maupun informasi yang belum terverifikasi dapat menyebar dalam hitungan menit dan berpotensi memperkeruh keadaan.

Karena itu, BEMKA melihat literasi digital sebagai bagian dari tanggung jawab pemuda. Tidak setiap informasi yang beredar harus langsung dipercaya atau dibagikan. Pemuda justru dituntut lebih kritis sebelum meneruskan informasi kepada orang lain.

Persoalan karhutla juga menjadi perhatian tersendiri. BEMKA memandang karhutla tidak berhenti sebagai persoalan lingkungan. Ketika asap mengganggu kesehatan, aktivitas pendidikan, transportasi, pekerjaan hingga kehidupan sosial masyarakat, dampaknya kemudian bersinggungan dengan berbagai aspek kehidupan lainnya.

Di titik inilah pemuda dinilai memiliki ruang untuk berkontribusi.Namun, keterlibatan pemuda dalam penanganan karhutla juga harus dilakukan secara tepat. Ketika api muncul, masyarakat dan relawan tidak bisa sembarangan masuk ke lokasi kebakaran tanpa pengetahuan, perlengkapan, maupun koordinasi dengan petugas.

Pemuda dapat membantu melalui pelaporan titik api, penyebaran informasi yang benar, edukasi kepada masyarakat, dukungan logistik, hingga membantu kelompok rentan terdampak asap. Sementara proses pemadaman tetap perlu dilakukan oleh pihak yang memiliki kemampuan dan perlengkapan sesuai kondisi lapangan.

BEMKA juga melihat kebiasaan membakar lahan sebagai persoalan yang membutuhkan pendekatan berlapis. Edukasi kepada masyarakat penting, tetapi kesadaran tersebut juga perlu berjalan beriringan dengan pengawasan dan penegakan aturan.

Memasuki tahun kedua, BEMKA ingin memperluas keterlibatan pemuda agar tidak berhenti pada kegiatan sosial sesaat. Organisasi tersebut ingin membangun ruang kolaborasi antara pemuda, masyarakat, pemerintah daerah, aparat keamanan dan berbagai stakeholder untuk membahas persoalan yang terjadi di Kalimantan Tengah.

Ada tiga isu yang menjadi perhatian penting dalam konteks tersebut: penguatan partisipasi pemuda dalam Kamtibmas, pencegahan karhutla berbasis masyarakat, serta peningkatan edukasi dan kepedulian terhadap lingkungan dan kesehatan. Pada akhirnya, BEMKA ingin membawa pesan bahwa menjadi pemuda bukan sekadar soal usia. Ada tanggung jawab sosial yang ikut melekat di dalamnya.

Satu tahun BEMKA menjadi awal. Tantangannya kini adalah bagaimana semangat “Bangkit Pemuda” benar-benar hadir di tengah masyarakat—bukan hanya melalui kegiatan, tetapi melalui keberanian untuk peduli, bergerak dan ikut menyelesaikan persoalan yang ada di Kalimantan Tengah.

“Kirim

Pos terkait