Di tengah derasnya arus informasi digital, media massa dan generasi muda memegang peran strategis dalam upaya menekan penyebaran hoaks yang kian marak. Informasi palsu, terutama terkait politik, kesehatan, dan isu sosial, kerap menimbulkan keresahan publik hingga memicu konflik di masyarakat.
Karena itu, kolaborasi dua elemen ini menjadi kunci terciptanya ekosistem informasi yang lebih sehat dan terpercaya.Media massa dituntut untuk menjalankan fungsi kontrol dan verifikasi secara ketat sebelum memublikasikan informasi kepada publik.
Pemeriksaan fakta yang akurat menjadi landasan penting agar masyarakat menerima berita yang benar, sekaligus menjaga kepercayaan publik terhadap institusi media dalam iklim demokrasi.Di sisi lain, generasi muda yang mendominasi penggunaan internet khususnya kelompok usia 17 hingga 27 tahun memiliki potensi besar dalam memutus mata rantai hoaks.
Kemampuan mereka dalam mengakses, memilah, serta memverifikasi informasi menjadikan kelompok ini sebagai agen perubahan yang efektif. Dengan edukasi literasi digital yang memadai, anak muda dapat turut membimbing lingkungan sekitar dalam memahami informasi secara kritis.
Kolaborasi media dan anak muda melalui kampanye literasi digital di berbagai platform terbukti meningkatkan kesadaran publik dalam mengenali dan menolak hoaks, terutama selama masa pandemi dan isu kesehatan lainnya.
Strategi yang diterapkan meliputi pengecekan sumber kredibel, penggunaan alat bantu pemeriksa fakta, serta penyebaran konten edukatif yang mendorong kejujuran dan transparansi dalam ruang digital.
Sinergi ini diharapkan mampu memperkuat daya tahan masyarakat terhadap misinformasi dan menciptakan ekosistem informasi yang lebih akurat, bertanggung jawab, dan berintegritas.
Di Tulis Oleh: AMANDA NABILA






